BAB I
LANDASAN TEORI
1.1 Pendahuluan
Antrian yang panjang sering kali kita temukan di bank
saat nasabah mengantri di teller untuk melakukan transaksi, di klinik
saat pasien mengantri
untuk mendapatkan pelayanan, di airport saat para
calon penumpang melakukan check-in, di super market saat para
pembeli antri untuk melakukan pembayaran, di tempat cuci mobil saat mobil antri untuk
dicuci dan masih banyak contoh
lainnya. Hal ini dapat menyebabkan konsumen berhenti untuk mengantri atau
bahkan dapat meninggalkan sistem sehingga
dapat
mengakibatkan kehilangan konsumen atau
kerugian
bagi
perusahaan.
Teori tentang antrian diketemukan dan dikembangkan oleh A. K. Erlang,
seorang insinyur dari Denmark yang
bekerja pada perusahaan telepon di Kopenhagen
pada tahun 1910. Erlang
melakukan eksperimen tentang fluktuasi permintaan fasilitas
telepon yang
berhubungan dengan automatic dialing equipment, yaitu peralatan
penyambungan telepon secara otomatis. Dalam waktu – waktu yang sibuk operator sangat kewalahan untuk
melayani para penelepon secepatnya, sehingga para
penelepon
harus antri menunggu giliran,
mungkin cukup
lama. Persoalan aslinya Erlang hanya memperlakukan perhitungan keterlambatan
(delay)
dari seorang
operator, kemudian pada
tahun 1917 penelitian
dilanjutkan untuk menghitung kesibukan beberapa operator. Dalam periode ini Erlang
menerbitkan bukunya yang terkenal berjudul Solution of some problems in the
theory of probabilities of
significance in Automatic
Telephone Exhange. Baru setelah perang
dunia kedua, hasil
penelitian Erlang diperluas penggunaannya antara lain dalam teori antrian (Supranto,
1987). Menurut Siagian (1987), antrian ialah suatu garis tunggu dari nasabah (satuan)
yang
memerlukan layanan dari satu atau lebih pelayan (fasilitas layanan). Richard
Bronson (1982), proses antrian (queueing process)
adalah suatu proses yang
berhubungan dengan kedatangan seseorang
pelanggan pada suatu fasilitas pelayanan,
kemudian menunggu dalam suatu baris (antrian) jika semua
pelayannya sibuk, dan akhirnya meninggalkan fasilitas tersebut. Sebuah sistem antrian adalah suatu himpunan pelanggan, pelayan dan suatu aturan yang mengatur kedatangan pada pelanggan dan pemroses masalahnya
1.2 Sistem Antrian
Gross dan Haris (Gross, 2001) mengatakan bahwa sistem antrian adalah kedatangan pelanggan untuk mendapatkan pelayanan, menunggu untuk dilayani jika fasilitas
pelayanan (server) masih sibuk, mendapatkan
pelayanan dankemudian meninggalkan sistem setelah dilayani. Pada
umumnya, sistem antrian dapat diklasifikasikan
menjadi sistem yang berbeda-beda di mana teori antrian dan simulasi sering
diterapkan secara luas. Klasifikasi menurut Hillier dan Lieberman
adalah
sebagai
berikut :
1. Sistem
pelayanan komersial.
Sistem pelayanan komersial merupakan aplikasi yang
sangat luas dari model-
model antrian, seperti restoran, kafetaria, toko-toko,
salon, butik, supermarket,
dan sebagainya.
2. Sistem
pelayanan bisnis-industri.
Sistem pelayanan
bisnis-industri mencakup sistem produksi,
sistem material, handling, sistem
pergudangan,
dan
sistem-sistem informasi komputer.
3. Sistem
pelayanan transportasi.
4. Sistem
pelayanan sosial
Sistem pelayanan sosial merupakan sistem-sistem
pelayanan yang dikelola oleh kantor-kantor dan perusahaan-perusahan lokal maupun
nasional, seperti kantor registrasi SIM dan STNK, kantor pos, rumah sakit, puskesmas, dan lain-lain
(Subagyo, 2000).
Dalam sistem antrian terdapat beberapa komponen dasar proses antrian
antara lain adalah:
1. Kedatangan.
Setiap masalah antrian melibatkan kedatangan,
misalnya orang, mobil, panggilan telepon untuk dilayani, dan lain-lain. Unsur
ini sering dinamakan proses input. Proses input meliputi sumber
kedatangan atau biasa dinamakan
calling population, dan cara terjadinya kedatangan yang umumnya merupakan
variabel acak. Karakteristik
dari populasi yang
akan
dilayani
dapat dilihat
menurut ukurannya, pola kedatangan, serta perilaku dari populasi yang
akan
dilayani. Menurut ukurannya, populasi
yang dilayani bisa terbatas (finite) dan tidak terbatas (infinite). pola kedatangan
bisa teratur, dapat pula
bersifat acak atau
random. Menurut Levin, dkk (2002), variabel acak adalah suatu variabel yang
nilainya bisa berapa saja sebagai hasil dari percobaan acak. Variabel acak dapat berupa diskrit atau kontinu. Bila variabel acak
hanya dimungkinkan memiliki beberapa
nilai saja, maka ia merupakan variabel acak diskrit. Sebaliknya bila nilainya dimungkinkan
bervariasi pada rentang tertentu, ia
dikenal sebagai variabel
acak kontinu.
2. Pelayanan
Pelayanan atau
mekanisme pelayanan
dapat terdiri dari
satu atau lebih pelayan,
atau satu atau lebih fasilitas pelayanan. Tiap-tiap fasilitas pelayanan kadang-
kadang disebut
sebagai saluran (channel) (Schroeder,1997). Contohnya, jalan
tol dapat
memiliki beberapa
pintu tol. Mekanisme pelayanan
dapat hanya
terdiri dari satu pelayan dalam satu fasilitas pelayanan yang ditemui pada loket seperti pada penjualan tiket di gedung bioskop.
Dalam mekanisme pelayanan ini ada 3
aspek yang harus
diperhatikan yaitu :
1. Tersedianya pelayanan
Mekanisme pelayanan tidak selalu tersedia
untuk setiap saat. Misalnya
dalam pertunjukan bioskop, loket penjualan karcis hanya dibuka
pada
waktu tertentu antara satu pertunjukan dengan pertunjukan berikutnya,
sehingga saat loket ditutup mekanisme
pelayanan terrhenti dan petugas
beristirahat.
2. Kapasitas pelayanan
Kapasitas dari mekanisme
pelayanan diukur berdasarkan jumlah
pelanggan yang tidak dapat dilayani secara bersama-sama. Kapasitas pelayan yang tidak selalu sama untuk setiap saat, ada yang tetap, tapi
ada
juga yang berubah-ubah. Karena itu, fasilitas pelayanan dapat memiliki
satu atau
lebih saluran. Fasilitas yang
mempunyai satu saluran disebut saluran tunggal atau sistem
pelayanan tunggal dan fasilitas yang mempunyai lebih dari satu saluran disebut saluran ganda
atau pelayanan ganda.
3. Lama pelayanan
Lama pelayanan adalah waktu yang
dibutuhkan untuk melayani
seseorang
langganan atau satu satuan. Ini harus dinyatakan secara
pasti. Oleh karena itu, waktu
pelayanan boleh tetap dari waktu ke waktu
untuk semua langgannan atau boleh juga berupa
variabel acak. Umumnya dan untuk keperluan analisis, waktu
pelayanan dianggap
sebagai varriabel acak yang terpancar secara bebas dan sama tidak
tergantung pada waktu pertibaan.
3. Antrian
Timbulnya antrian terutama tergantung
dari sifat kedatangan dan proses
pelayanan. Jika tak ada antrian berarti terdapat pelayan yang menganggur atau kelebihan fasilitas pelayanan (Mulyono, 1991)
1.3 Disiplin Antrian
Menurut Thomas J. Kakiay disiplin antrian adalah aturan di mana para pelanggan dilayani, atau disiplin pelayanan (service discipline) yang memuat urutan (order) para pelanggan menerima layanan. Ada 4 bentuk bentuk disiplin antrian menurut urutan
kedatangan antara lain adalah :
1. First
Come
First Served (FCFS)
atau First In
First Out (FIFO),
di
mana
pelanggan yang
terlebih dahulu datang akan dilayani terlebih dahulu.
Misalnya, antrian pada
loket
pembelian tiket bioskop, antrian pada
loket
pembelian tiket kereta api..
2. Last Come First
Served
(LCFS)
atau Last In
First Out (LIFO), di mana pelanggan yang datang paling akhir akan dilayani terlebih dahulu. Misalnya, sistem
antrian
pada
elevator untuk lanti
yang sama, sistem
bongkar
muat
barang dalam truk, pasien dalam kondisi kritis, walaupun dia datang paling
akhir tetapi dia akan dilayani
terlebih
dahulu.
3. Service In Random Order (SIRO) atau Random Selection for Service (RSS), di
mana panggilan didasarkan pada peluang secara random, jadi tidak menjadi permasalahan
siapa yang lebih dahulu datang.
Misalnya, pada arisan
di mana penarikan
berdasarkan
nomor undian.
4. Priority Service (PS), di mana prioritas pelayanan diberikan kepada pelanggan yang
mempunyai prioritas lebih tinggi dibandingkan dengan pelanggan yang mempunyai prioritas yang lebih rendah, meskipun mungkin yang dahulu tiba di garis tunggu adalah yang
terakhir datang. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal, misalnya seseorang yang memiliki penyakit yang lebih berat
dibandingkan orang lain pada suatu tempat praktek dokter, hubungan
kekerabatan pelayan
dan
pelanggan potensial akan dilayani terlebih dahulu.
1.4. Struktur
Antrian
Ada 4 model
struktur antrian dasar yang umum terjadi dalam
seluruh sistem antrian :
Jalur antrian Server
Gambar 2.4.1 Single Channel –
Single Phase
Single Channel berarti hanya ada
satu jalur yang memasuki sistem pelayanan atau ada
satu fasilitas pelayanan. Single Phase berarti hanya ada
satu fasilitas pelayanan. Contohnya adalah sebuah kantor pos yang hanya mempunyai satu loket pelayananan
dengan jalur satu antrian, supermarket yang hanya memiliki satu kasir sebagai tempat
pembayaran, dan
lain-lain.
Gambar 2.4.2
Single Channel – Multi Phase
Sistem antrian jalur tunggal dengan tahapan berganda
ini atau menunjukkan ada dua
atau lebih pelayanan yang dilaksanakan secara berurutan.
Sebagai contoh adalah
: pencucian mobil, tukang
cat mobil, dan sebagainya.
Jalur antrian Server
Gambar 2.4.3
Multi Channel –
Single Phase
Jalur antrian Server
Gambar 2.4.4 Multi
Channel – Multi
Phase
Sistem Multi
Channel – Multi Phase ini menunjukkan
bahwa setiap
sistem mempunyai
beberapa fasilitas pelayanan pada setiap
tahap sehingga terdapat lebih dari
satu pelanggan yang dapat dilayani pada waktu bersamaan. Contoh pada model ini
adalah : pada pelayanan yang dibarikan kepada pasien di rumah sakit dimulai dari
pendaftarran, diagnose, tindakan medis,
samppai pembayaran,
registrasi ulang mahasiswa baru pada sebuah universitas,
dan lain-lain.
1.5. Model-Model
Antrian
Karakteristik dan asumsi dari
model antrian dirangkum dalam bentuk notasi. Notasi
standar yang digunakan
adalah
sebagai berikut :
( a / b / c /
d / e )
Di mana simbol a, b, c, d, e merupakan elemen dasar
dari model antrian :
1. a = distribusi kedatangan yaitu
jumlah kedatangan per
satuan waktu
2. b = distribusi waktu
pelayanan
3. c = jumlah fasilitas pelayanan ( s = 1, 2, 3, …,
4. d = jumlah
maksimum
yang
deperkenankan
berada dalam
sistem (dalam pelayanan
ditambah yang
di garis
tunggu).
5. e = ukuran pemanggil populasi
atau sumber.
Notasi standar untuk simbol a dan b sebagai distribusu
kedatangan dan distribusi waktu
pelayanan mempunyai
kode
sebagai berikut
:
1. M = Poisson ( Markovian ) untuk
distribusi kedatangan atau waktu pelayanan.
2. D = interarrival
atau service time konstan
( deterministic
)
3. = interarrival atau
service time berdistribusi Erlang atau Gamma
Contohnya adalah ( M/ D/ 5/ N/
artinya kedatangan berdistribusi Poisson,
waktu pelayanan
konstan, dan terdapat 5 buah
fasilitas pelayanan. Jumlah
konsumen dibatasi sebanyak N
dan sumber
populasi tidak terbatas. Model-model
antrian secara umum
antara lain adalah sebagai berikut
:
1. Model ( M/
M/ 1/ ∞ / ∞)
Syarat-syarat dari model ini antara lain :
1. Jumlah
kedatangan tiap satuan waktu
mengikuti distribusi
Poisson
2. Waktu
pelayanan
berdistribusi Eksponensial
3. Disiplin antrian yang digunakan adalah
FCFS
4. Sumber populasi tidak terbatas
5. Jalur
antriannya tunggal
6. Tingkat
rata-rata
kedatangan
lebih
kecil daripada tingkat
rata-rata
pelayanan
7. Panjang antrian
tidak
terbatas
2. Model ( M/
M/ S/ ∞/∞)
Pada model ini fasilitas pelayanan (
server
) bersifat ganda, rata-rata tingkat kedatangan lebih
kecil
daripada
penjumlahan seluruh rata-rata tingkat pelayanan
di tiap jalur. Syarat yang lain
sama
dengan
model
server tunggal.
3. Model ( M/
M/ 1/ ∞/∞)
Model ini merupakan variasi dari
model
yang pertama, di mana
panjang antrian atau kapasitas tunggu dibatasi maksimum N individu. Jumlah maksimum ini meliputi individu yang menunggu dan yang sedang dilayani.
4. Model ( M/
M/ 1/ ∞ / ∞)
Model ini hampir sama dengan model yang
pertama haya saja sumber populasi dibatasi sebanyak N.
1.6
Terminologi dan Notasi Antrian
Terminologi yang biasa digunakan
dalam sistem antrian adalah :
1. Keadaan sistem yaitu jumlah aktivitas pelayanan yang terjadi dalam melayani
pelanggan dalam
sistem.
2. Panjang antrian yaitu banyaknya satuan yang berada dalam sistem dikurangi dengan jumlah yang sedang dilayani.
Notasi yang digunakan adalah sebagai
berikut :
n = Jumlah
nasabah yang
mengantri pada waktu
t k = Jumlah
satuan pelayanan
= Tingkat
kedatangan
µ = Tingkat
pelayanan
= Tingkat
kesibukan sistem
= Peluang semua teller menganggur atau
tidak
ada
nasabah dalam sistem
= Peluang nasabah yang datang harus
menunggu
= Ekspektasi
panjang sistem
L = Ekspektasi
panjang antrian
= Ekspektasi
waktu menunggu
dalam sistem
W = Ekspektasi
waktu menunggu
dalam antrian
Faktor-faktor yang
berpengaruh
terhadap
barisan antrian dan
pelayanan adalah sebagai berikut
:
1. Distribusi kedatangan, kedatangan individu
atau berkelompok
2. Distribusi pelayanan, pelayanan individu
atau berkelompok
3. Fasilitas pelayanan,
berbentuk series, paralel, atau network station
4. Disiplin
pelayanan,
berbentuk FCFS, LCFS,
SIRO atau
PP
5. Ukuran
dalam antrian, kedatangan
bersifat tidak terbatas
atau terbatas
6. Sumber pemanggil, bersifat
terbatas atau
tidak
terbatas
1.7 Pola Kedatangan dan Waktu Pelayanan
1.7.1 Pola Kedatangan
Pola kedatangan suatu sistem
antrian dapat dipresentasikan oleh waktu antar kedatangan
yang merupakan
suatu
periode waktu
antara
dua
kedatangan
yang berturut-turut.
Kedatangan dapat dipisahkan
oleh interval kedatangan yang
sama atau tidak sama
probabilitasnya disebut kedatangan acak. Tingkat kedatangan yaitu jumlah
pelanggan yang datang per
satuan unit waktu.
Jika kedatangan bersifat acak, harus diketahui dahulu distribusi probabilitas
kedatangannya.
Suatu
proses kedatangan dalam
suatu
sistem antrian artinya
menentukan
distribusi probabilitas unntuk jumlah kedatangan untuk suatu periode waktu ( Winston
). Pada
umumnya, suatu proses
kedatangan terjadi secara acak dan independent
terhadap proses kedatangan lainnya dan tidak dapat diprediksi kapan
pelanggan akan
datang. Dalam
hal ini, distribusi probabilitas
Poisson
menyediakan deskripsi yang
cukup baik untuk suatu pola kedatangan. Suatu fungsi probabilitas Poisson untuk
![]() |

Dimana :
x =
jumlah kedatangan
per
periode waktu
λ =
rata-rata jumlah kedatangan per periode waktu e = 2,71828
1.7.2
Uji Kesesuaian Poisson
Uji
kesesuaian Poisson
dilakukan dengan uji Chi Square ( yang didefinisikan sebagai berikut:
= data yang diuji
mengikuti distribusi
= data yang diuji
tidak mengikuti distribusi
![]() |
Dimana :
= frekuensi
observasi ke-i
= frekueensi
harapan ke-i
Dalam uji
Chi Square, data observasi mengikuti
distribusi saat
1.7.3 Pola Pelayanan
Pola
pelayanan ditentukan oleh waktu pelayanan yaitu waktu yang
dibutuhkan untuk melayani pelanggan pada fasilitas pelayanan. Waktu pelayanan dapat berupa waktu
pelayanan konstan
ataupun
variabel acak
yang
telah diketahui probabilitasnya.
Tingkat pelayanan adalah jumlah pelanggan yang
dilayani per satuan waktu. Dengan asumsi channel
selalu dalam keadaan
sibuk
sehingga
tidak ada waktu idle
yang dialami oleh channel
itu.
Waktu pelayanan antara fasilitas pelayanan dengan fasilitas pelayanan yang lain biasanya tidak konstan. Distribusi probabilitas untuk waktu layanan biasanya
mengikuti distribusi probabilitas Eksponensial yang
formulanya dapat memberikan
informasi yang
berguna mengenai operasi yang
terjadi pada suatu antrian. Persamaan distribusi
Eksponensialnya adalah
sebagai berikut :
1.7.4 Uji
Kesesuaian Eksponensial
Uji
kesesuaian Eksponensial dilakukan dengan uju Kolmogorov-Smirnov dengan cara sebagai berikut
:
BAB 2
PEMBAHASAN DAN ANALISIS
2.1 Studi Kasus
Di dalam model antrian ini terdapat beberapa metode
pembahasan untuk tiap jenis studi kasusnya. Diantaranya adalah single channel single phase, multi channel
single phase, single channel multi phase, dan multi channel multi phase.
Namun untuk metode yang akan dibahas kali ini adalah studi kasus mengenai single channel single phase dan multi channel single phase.
2.1.1
Single Channel-Single Phase
Seorang Manager perusahaan PT Yonsindo ingin melakukan
perbaikan terhadap proses pembuatan bahan kimia. Laporan yang berhasil
didapatkan oleh manager tersebut, yaitu rata-rata produk yang jadi
adalah 120 kg/jam, sedangkan rata-rata tingkat pelayanan produk tersebut
sebesar 5 menit. Dari informasi tersebut tentukan:
a.
Tingkat Intensitas Fasilitas Pelayanan
(P)
b.
Jumlah unit rata-rata yang diharapkan dalam
antrian (Lq)
c.
Jumlah unit rata-rata yang diharapkan
dalam sistem (Ls)
d.
Waktu menunggu rata-rata yang diharapkan
dalam antrian (Wq)
e.
Waktu menunggu rata-rata yang diharapkan dalam
sistem (Ws)
f.
Probabilitas tidak terdapat pelayanan
produk dalam sistem (Po)
2.1.2
Multi Channel-Single Phase
Seorang Manager perusahaan PT Yonsindo tersebut juga ingin
melakukan perbaikan terhadap proses pengeringan. Perbaikan akan dilakukan oleh manager pada proses tersebut, karena dari
laporan yang didapat dari 4 pekerja yang mengeringkan produk terdapat antrian. Laporan yang berhasil
didapatkan oleh manager tersebut, bahwa rata-rata produk yang jadi adalah sebesar 40 sak/jam, sedangkan rata-rata tingkat pelayanan produk tersebut adalah sebesar 20menit/sak.
Dari informasi tersebut tentukan:
a. Tingkat
intensitas fasilitas pelayanan (P)
b. Probabilitas
tidak ada pelanggan dalam sistem (Po)
c. Jumlah
unit rata-rata yang diharapkan dalam antrian (Lq)
d. Jumlah
unit rata-rata yang diharapkan dalam sistem (L)
e. Waktu
menunggu rata-rata yang diharapkan dalam antrian (Wq)
f. Waktu
rata-rata unit dalam antrian (W)
2.2 Perhitungan Manual dan Software
Pada studi kasus teori antrian akan
dilakukan 2 kali perhitungan yaitu perhitugan manual dan perhitungan software. Perhitungan dengan menggunakan
software digunakan untuk
membandingkan antara hasil perhitungan manual dengan perhitungan software, software ini dibuat untuk dapat membantu untuk menyelesaikan persoalan
dan permasalahan yang ada pada studi kasus. Dalam studi kasus kali ini
perhitungan software ini menggunakan software QM 2 Windows.
2.2.1 Single Channel-Single Phase
Pada studi kasus teori antrian pada tipe Single Channel-Single Phase akan
dilakukan 2 kali perhitungan yaitu perhitugan manual dan perhitungan software. Berikut ini rincian hasil
perhitungannya:
1. Perhitungan Manual
Langkah
awal penyelesaianya adalah diketahui bahwa rata-rata kedatangan unit (λ) = 120 kg/jam ≈ 2kg/menit dan rata-rata tingkat pelayanan (µ) = 5 menit.
Penyelesaiannya
adalah sebagai berikut :
- Tingkat intensitas fasilitas pelayanan (P)
Sehingga tingkat intensitas fasilitas pelayannya adalah 40 %
Jumlah
unit rata-rata yang diharapkan dalam antrian (Lq)
Jumlah
unit rata-rata yang diharapkan dalam sistem (Ls)
Waktu
menunggu rata-rata yang diharapkan dalam antrian (Wq)
Waktu
menunggu rata-rata yang diharapkan dalam sistem
(Ws)
Probabilitas
tidak terdapat pelanggan pada sistem
(Po)
2.
Perhitungan Software
Langkah awal yang dilakukan yaitu membuka Software Q.M 2 windows. Selanjutnya pilih Module lalu pilih waiting
lines kemudian pilih single channel
system dan beri judul pada kolom
title. Langkah selanjutnya masukkan angka pada table set sesuai dengan studi
kasus kemudian klik Solve.

Gambar 2.1 Software Qm for Windows

Gambar 2.2 Option Module

Gambar 2.3 Create Data For
Waiting Lines

Gambar 2.4 Hasil Output Perhitungan
2.2.2
Multi Channel-Single Phase
Pada studi kasus teori antrian pada tipe Multy Channel-Single Phase akan
dilakukan 2 kali perhitungan yaitu perhitugan manual dan perhitungan software. Berikut ini rincian hasil
perhitungannya:
1.
Perhitungan Manual
Langkah awal penyelesaianya adalah diketahui bahwa fasilitas pelayanan (S)
sebanyak 4 unit, rata-rata produk jadi (λ) = 40 sak/jam dan rata-rata tingkat pelayanan (µ) = 20 menit/sak ≈ 3 sak/jam.
Penyelesaiannya
adalah sebagai berikut :
- Tingkat intensitas fasilitas pelayanan (P)
Sehingga tingkat intensitas fasilitas pelayannya adalah 25%
Probabilitas
tidak terdapat pelanggan pada sistem (Po)
![]() |
- Jumlah unit rata-rata yang diharapkan dalam antrian (Lq)
![]() |
- Jumlah unit rata-rata yang diharapkan dalam sistem (Ls)
Waktu menunggu
rata-rata yang diharapkan dalam antrian (Wq)![]() |
Waktu
unit rata-rata dalam antrian (W)
2. Perhitungan Software
Setelah tadi menghitung single
channel, buka new kemudian pilih Multichannel system dan berikan judul,
selanjutnya masukkan angka pada table sesuai dengan studi kasus. Pilih tombol
solve untuk mengetahui hasil

Gambar 2.5 Options New

Gambar 2.6 Create Data For
Waiting Lines

Gambar 2.7 Hasil output
2.3
Analisis
Setelah semua pengujian nilai terhadap studi kasus dengan perhitungan
manual maupun perhitungan software.
Sehingga dapat dilakukan analisa terhadap hasil perhitungan.
2.3.1 Single Channel-Single Phase
Pada studi kasus Single
Channel-Single Phase adalah ingin melakukan
perbaikan proses pembuatan bahan kimia. Didapatlah
nilai sebagai berikut :
a.
Tingkat
intensitas fasilitas pelayanan (P) = 50 %
b.
Jumlah unit
rata-rata yang diharapkan dalam antrian (Lq) = 1unit
c.
Jumlah unit
rata-rata yang diharapkan dalam sistem (Ls) = 0,5 unit
d.
Waktu menunggu
rata-rata yang diharapkan dalam antrian (Wq) = 0,25 menit
e.
Waktu menunggu
rata-rata yang diharapkan dalam sistem (Ws) = 0,5 menit
f.
Probabilitas
tidak terdapat pelanggan pada sistem
(Po) = 50 %
Selain menggunakan metoda perhitungan manual, manager PT
Yonsindo memakai bantuan software QM 2 for windows, berikut
adalah hasilnya :

Gambar 2.8 Hasil output
Tidak ada perbedaan dari perhitungan manual maupun software dikarenakan
pembulatan angka yang sama, sehingga tidak terjadi selisih angka antara
perhitungan manual maupun software.
2.3.2 Multi Channel-Single Phase
Pada studi kasus Multi Channel-Single Phase adalah Manager PT Yonsindo ingin melakukan perbaikan pada proses pengeringan, berikut adalah hasilnya :
a.
Tingkat
intensitas fasilitas pelayanan (P) = 50 %
b.
Probabilitas
tidak terdapat pelanggan pada sistem
(Po) = 0,0
c.
Jumlah unit
rata-rata yang diharapkan dalam antrian (Lq) = 0,1739
d.
Jumlah unit
rata-rata yang diharapkan dalam sistem (L) = 2,17
e.
Waktu menunggu
rata-rata yang diharapkan dalam antrian (Wq) = 0,0043jam
f.
Waktu unit
rata-rata dalam antrian (W) = 0,05430 jam
. Hasil perhitungan software dari studi kasus ini adalah
sebagai berikut:

Gambar 2.11 Hasil output
Tidak ada perbedaan dari perhitungan
manual maupun software dikarenakan pembulatan angka yang sama, sehingga tidak
terjadi selisih angka antara perhitungan manual maupun software
DAFTAR PUSTAKA
http://journal.mercubuana.ac.id/data/BAB%205%20-%20Teori%20Antrian.pdf
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Penny%20Rahmawaty,%20M.Si./Modul%20OR%20-%20TEORI%20ANTRIAN.pdf





Tidak ada komentar:
Posting Komentar